KalkulatorUMKM
8 tools gratis untuk keputusan usaha harian

RUANG DIGITAL AMAN · PEMASARAN DIGITAL

Pemasaran Digital Ramah Anak: Checklist Aman untuk UMKM

PP TUNAS kembali disosialisasikan pada Agustus 2026. UMKM dapat menyesuaikan promosi agar tetap efektif tanpa mengeksploitasi anak atau mengumpulkan data secara berlebihan.

Pemilik toko UMKM menunjukkan informasi produk digital kepada seorang ibu dan anak remaja di toko tanpa merek
Ilustrasi komunikasi produk yang terbuka kepada orang tua dan remaja tanpa menargetkan anak secara manipulatif.

Mengapa topik ini relevan untuk UMKM sekarang?

Pada 24 Agustus 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital kembali menyosialisasikan PP TUNAS sebagai kerangka untuk ruang digital yang aman bagi anak. Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 yang berlaku sejak 6 Maret 2026 mengatur pelaksanaan batas usia, verifikasi pengguna anak, penilaian risiko, akun anak, layanan jejaring, dan media sosial.

Bagi UMKM, perubahan paling terasa biasanya muncul melalui aturan platform: pilihan audiens iklan, batas usia akun, fitur pesan, kolaborasi kreator, pengumpulan data, dan jenis promosi yang diizinkan. Karena itu, strategi pemasaran perlu dibedakan antara komunikasi kepada orang tua, remaja, dan khalayak umum.

Pahami batas tanggung jawabnya

PP TUNAS dan aturan pelaksananya terutama membebankan kewajiban kepada penyelenggara sistem elektronik. UMKM yang sekadar memakai marketplace atau media sosial tidak otomatis memiliki seluruh kewajiban teknis platform. Namun, pelaku usaha tetap bertanggung jawab atas konten, klaim produk, pengumpulan data, transaksi, dan hubungan komersial yang dibuatnya sendiri.

Gunakan pengaturan resmi pada platform dan jangan mencari cara untuk melewati verifikasi umur atau pembatasan akun. Jika UMKM mengoperasikan aplikasi, situs dengan akun pengguna, komunitas, atau layanan digital sendiri yang dapat diakses anak, mintalah penilaian hukum yang sesuai dengan fitur dan model bisnisnya.

1. Audit produk, audiens, dan jalur pembelian

  • Kelompokkan produk: untuk orang dewasa, keluarga, remaja, anak, atau khalayak umum.
  • Catat siapa yang melihat konten, siapa yang mengambil keputusan, siapa yang membayar, dan siapa yang memakai produk.
  • Tandai produk dengan risiko usia, kesehatan, keselamatan, keuangan, atau ketentuan khusus lainnya.
  • Periksa apakah materi lama masih memakai visual, bahasa, hadiah, atau ajakan yang secara kuat menarik anak.
  • Jangan menyimpulkan usia seseorang hanya dari foto, nama akun, sekolah, atau kebiasaan yang terlihat.

2. Pisahkan pesan untuk orang tua dan anak

  • Sampaikan harga, bahan, ukuran, kegunaan, batas usia, risiko, dan cara pakai kepada pengambil keputusan secara jelas.
  • Hindari kalimat yang mendorong anak membujuk orang tua, menyembunyikan harga, atau merasa tertinggal bila tidak membeli.
  • Jangan memakai rasa takut, malu, perbandingan tubuh, status sosial, atau tekanan kelompok untuk mendorong transaksi.
  • Untuk produk keluarga, tampilkan peran orang tua atau wali secara wajar tanpa menjadikan persetujuan anak sebagai bukti legal.
  • Bedakan konten edukasi dengan iklan dan ungkapkan hubungan komersial secara jelas pada kolaborasi berbayar.

3. Atur iklan berdasarkan tujuan, bukan tebakan sensitif

  • Gunakan kontrol usia dan kategori audiens yang disediakan platform; jangan memalsukan kategori agar jangkauan lebih luas.
  • Hindari penargetan berdasarkan dugaan kondisi kesehatan, masalah keluarga, tekanan mental, ekonomi rumah tangga, atau kerentanan anak.
  • Untuk produk yang dibeli orang tua, arahkan kampanye kepada orang dewasa dengan manfaat dan bukti yang dapat diperiksa.
  • Matikan penempatan iklan yang tidak sesuai konteks jika platform menyediakan pilihan tersebut.
  • Simpan tangkapan pengaturan kampanye, tanggal, materi, anggaran, serta hasil sebagai catatan audit internal.

4. Periksa kolaborasi kreator dan testimoni

  • Verifikasi usia kreator dan identitas pihak yang menandatangani kerja sama.
  • Jika melibatkan anak, pastikan ada persetujuan orang tua atau wali dan perjanjian tertulis yang memuat ruang lingkup, durasi, penggunaan gambar, imbalan, serta hak penghentian.
  • Jangan meminta anak membuat klaim yang tidak dapat ia pahami atau mendorong pembelian impulsif kepada teman sebaya.
  • Batasi pengambilan gambar pada tempat, waktu, pakaian, dan aktivitas yang aman serta pantas.
  • Jangan membagikan sekolah, alamat, jadwal, lokasi real-time, nomor kontak pribadi, atau data lain yang meningkatkan risiko keselamatan.

5. Minimalkan data pada kuis, giveaway, dan komunitas

Giveaway dan formulir sederhana sering meminta lebih banyak data daripada yang dibutuhkan. Tentukan tujuan setiap kolom, siapa yang dapat mengaksesnya, berapa lama disimpan, dan bagaimana data dihapus setelah program selesai.

  • Jangan meminta tanggal lahir lengkap, nama sekolah, alamat rumah, foto identitas, atau lokasi jika tujuan dapat dicapai tanpa data tersebut.
  • Pisahkan persetujuan mengikuti promosi dari persetujuan menerima pesan pemasaran selanjutnya.
  • Gunakan kanal orang tua atau wali bila program memang melibatkan anak.
  • Batasi akses file peserta hanya kepada staf yang membutuhkan dan hapus salinan lokal yang tidak lagi dipakai.
  • Jangan mempublikasikan nama lengkap, akun, foto, atau jawaban anak tanpa dasar dan persetujuan yang tepat.

6. Buat promosi yang mudah dipahami

  • Tulis harga akhir, jumlah produk, periode, syarat, ongkir, wilayah, mekanisme pemenang, dan cara pengaduan secara jelas.
  • Hindari hitung mundur palsu, stok semu, tombol yang menyamarkan pembelian, atau hadiah yang baru terlihat setelah pembayaran.
  • Jangan menggunakan mekanisme menyerupai taruhan atau pembayaran berulang yang sulit dibatalkan.
  • Pisahkan permainan gratis dari pembelian dan jangan menjanjikan peluang menang yang tidak dapat dibuktikan.
  • Uji materi kepada orang dewasa yang tidak ikut membuatnya; minta mereka menjelaskan kembali syarat dengan kata-kata sendiri.

7. Moderasi pesan dan komentar

  • Tetapkan jam layanan dan pindahkan pembicaraan transaksi ke kanal resmi tanpa meminta rahasia akun atau kode OTP.
  • Hapus komentar yang membagikan data pribadi anak dan simpan bukti seperlunya untuk penanganan insiden.
  • Blokir akun yang melakukan pelecehan, eksploitasi, ancaman, atau permintaan tidak pantas.
  • Siapkan jalur eskalasi kepada pemilik usaha, platform, orang tua atau wali, dan pihak berwenang sesuai tingkat risiko.
  • Jangan membalas komentar anak dengan candaan seksual, penghinaan, tekanan membeli, atau ajakan bertemu pribadi.

Checklist 30 menit sebelum konten tayang

  • Audiens dan usia minimum pada kampanye sudah sesuai dengan produk serta kebijakan platform.
  • Konten tidak memakai tekanan sosial, ketakutan, rasa malu, atau dorongan kepada anak untuk membujuk orang tua.
  • Klaim, harga, syarat promosi, hubungan berbayar, dan batasan produk mudah ditemukan.
  • Tidak ada data pribadi, lokasi, sekolah, seragam, dokumen, atau identitas anak yang terpapar tanpa kebutuhan.
  • Kolaborasi kreator memiliki izin, kontrak, dan batas penggunaan materi yang dapat dibuktikan.
  • Staf mengetahui cara menangani komentar, pesan pribadi, komplain, dan insiden keselamatan.

Sumber yang digunakan

Artikel ini bersifat edukasi umum, bukan nasihat hukum, perlindungan anak, privasi, periklanan, atau kepatuhan platform. Kewajiban berbeda menurut peran usaha, fitur digital, produk, usia pengguna, cara pengumpulan data, dan kebijakan platform. Periksa aturan serta kebijakan terbaru pada kanal resmi. Bila usaha mengoperasikan aplikasi atau situs dengan akun pengguna, menargetkan anak, memproses data anak, atau melibatkan anak dalam konten komersial, mintalah penilaian dari penasihat hukum dan ahli pelindungan anak yang kompeten.

Lihat artikel UMKM lainnya →